1. Babak Baru (2)
Beberapa saat kemudian, taksi online yang kupesan datang. Aku segera menduduki bangku penumpang. Taksi melaju dengan kecepatan sedang membelah senja yang makin temaram. Aku akan segera sampai di rumah. Besok Subuh, babak baru kehidupanku akan segera dimulai. Aku akan berangkat ke sekolah baruku. Bukan sebagai guru lagi, melainkan sebagai seorang kepala sekolah. Kepala SMP Mulya Bhakti II.
Menurut beberapa orang teman, terlalu cepat babak baruku ini kumulai. Baru 5 tahun mengabdi menjadi seorang guru sudah berani menjabat kepala sekolah. Setahun bertugas, aku telah dipercaya menjadi kepala perpustakaan. Kemudian menjadi bendahara sekolah dan terakhir menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Belakangan aku selalu didesak oleh pihak yayasan agar aku mengikuti tes menjadi calon kepala sekolah.
Berat rasanya untuk mendaftar tes tersebut. Jika aku berhasil mendapatkan promosi, tentu saja aku harus bersedia digeser dari sekolahku, SMP Mulya Bhakti I. Aku sudah sangat nyaman di sini, bahkan lebih nyaman daripada di rumah sendiri. Tapi setelah diberikan pembinaan oleh kepala sekolahku, pak Benny, aku jadi mengerti.
“Bu Wina, kita membutuhkan tenaga-tenaga energik untuk merubah wajah negeri ini. Tuntutan masyarakat selaku konsumen adalah lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki inovasi, kompetensi dan kreativitas tinggi. Sekolah-sekolah negeri sekarang ini hanya sedikit memiliki hal tersebut.” begitu arahan beliau kepadaku.
“Yayasan kita bisa maju berkat sumbangan pemikiran dan kerja keras Ibu. Ibu memiliki peluang untuk lebih memajukan yayasan kita.” ujar beliau mematahkan berbagai alasan yang kuajukan.
“Apa pun yang Ibu lakukan, lakukanlah dengan ikhlas karena Tuhan. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan bergerak Bu.” selalu saja kalimat-kalimat positif yang diucapkan pak Benny. Dengan bimbingan beliau, rasa percaya diriku terus tumbuh. Tiada hari untuk tidak mempelajari hal-hal baru dalam hidupku. Selalu ingin memperbaiki diri dan mencoba apapun tantangan dalam bekerja sebagai guru.
Akhirnya, setelah melalui beberapa tes, aku dinyatakan lulus. Aku wajib mengikuti pelatihan selama beberapa bulan dan melakukan magang pada sekolah lain di yayasan ini. Yayasan Mulya Bhakti memiliki banyak sekolah dari tingkat pra sekolah sampai SMA atau SMK. Dan sekarang, semua proses itu telah kuselesaikan.
Lamunanku di atas taksi terputus karena tiba-tiba smartphone supir taksi online berbunyi dan ia segera menjawabnya. “Kenapa Bunda? Ya Allah… Iya Bun…. Bunda tenang ya, Ayah segera ke sana. Cari tempat duduk dulu, Ayah tidak mau Bunda jatuh… Iya, Oke... Tunggu bentar ya Sayang,,,” Kemudian ia melihat ke arahku. “Ada apa Pak?” tanyaku. “Maaf Bu, istri saya mau melahirkan. Ibu turun di sini saja boleh nggak? Saya mau jemput istri saya. Kebetulan di ujung jalan ini juga. Tapi nantinya kan belok kiri. Kalau ibu arahnya kan ke kanan.” ujarnya panik.
Aku sangat memakluminya. Siapa yang tidak panik jika orang yang disayangi sedang dalam keadaan genting, “Jemput aja istri Bapak, lalu kita antar ke rumah sakit. Nanti saya gampang, nyari taksi lagi.” Bapak itu tidak menjawab lagi dan langsung melarikan kendaraannya dengan kencang.
(Bersambung)
Nice share......
BalasHapusSelamat ya Bu Kepsek, semoga dapat menjalankan amanah dengan baik dan diberikan kemudahan oleh Allah SWT. Aamiin.
Nanti kapan-kapan boleh nggak kalau saya audit ? hehe maaf bercanda
Makasi komennya Tukang Audit...hehe
HapusDitunggu kunjungannya...