1. Babak Baru (1)

1. Babak Baru
Perlahan kututup pintu ruang majelis guru. Aku berjalan menuju mesin absensi dan menyetorkan wajahku sebagai laporan bahwa aku telah selesai bertugas hari ini. “Terima kasih” ujar mesin itu. “Sama-sama.” jawabku iseng. Manalah mungkin mesin itu dapat mendengarkan balasan terima kasihku. Tapi biarlah, itu dapat menghibur diri sendiri. Dan itu adalah balasan terakhirku untuknya. Besok dan seterusnya aku takkan menyetorkan wajahku lagi padanya.
Dengan langkah santai aku berjalan menuju gerbang sekolah. Untuk apa buru-buru pulang, tak ada yang akan dikejar. Hanya detak sepatuku yang terdengar di lorong sekolah ini. Gedung megah ini sudah sangat sunyi dari beberapa waktu yang lalu. Kulirik penunjuk waktu di pergelangan tanganku. Sudah pukul 17.30 WIB, pantas saja. Hari sudah terlalu sore.
Ini adalah hari terakhir aku bertugas di sini, SMP Mulya Bhakti I. Besok pagi aku sudah harus berangkat ke SMP Mulya Bhakti II, karena tugas yang baru telah menunggu di sana. Berat rasanya meninggalkan sekolah ini, karena banyak kenangan berharga yang terukir di sini. 
Tak terasa, aku telah sampai di gerbang sekolah. Mas Fatur, sang penjaga sekolah terlihat asyik menyirami kebun di dekat pagar. “Sudah selesai beberesnya, Bu?” tanya beliau. “Sudah Mas. Ini sudah semuanya. Barang-barang sudah saya bawa pulang sejak beberapa hari yang lalu.” Mas Fatur mengangguk sambil tersenyum. Kami saling berjabat tangan. “Maafkan semua kesalahan dan kekhilafan saya ya Mas. Besok saya sudah harus mulai bertugas di SMP Mulya Bhakti II.” ujarku. “Iya Bu, sama-sama. Jaga kesehatan ya Bu. Saya do’akan Ibu makin sukses.” mas Fatur berkata perlahan sambil melepaskan jabatan tangannya. Aku kembali mengucapkan beberapa kalimat perpisahan, kemudian berlalu dari hadapannya.
(bersambung)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3. Hujan