1. Babak Baru (3)
Sampai di ujung jalan taksi yang kutumpangi berbelok ke kiri dengan tajam. Takut terjatuh, aku berpegangan dengan erat ke ujung kursi depan. Tak lama taksi menepi dan berhenti persis di depan seorang ibu muda yang sedang meringis sambil memegang perutnya. Tanpa pikir panjang aku keluar dari mobil dan menghampiri perempuan itu.
Aku dan supir taksi itu membimbing sang istri yang kesakitan ke atas taksi. Dengan susah payah ia melangkah. Ibu ini memakai gamis berwarna abu-abu, parasnya pucat kesakitan. Aku sangat kasihan melihatnya. Akhirnya ia berhasil kududukkan di jok belakang dan aku segera mendampinginya. Tak lama berselang taksi kembali melaju di aspal jalan. Tentu saja menuju rumah sakit yang terletak di utara kota ini.
Setelah membantu mengurus istri supir taksi online yang akan melahirkan itu, aku kembali berada di bangku belakang taksi online. Tentu saja ini adalah taksi yang lain walaupun dalam layanan yang sama. Terbayang kembali di pelupuk mataku betapa supir itu sangat bahagia dengan kelahiran putra pertamanya. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih karena aku mau membantu keluarganya. Aku bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berbuat baik pada orang lain.
“Sudah sampai Bu.” suara supir taksi online memecah lamunanku. Aku tersentak. Segera membayar ongkos dengan tunai, berlalu sambil mengucapkan terima kasih.
***
Kuhempaskan tubuhku di atas sofa. Mandi dengan air hangat tadi sedikit mengurangi pegal-pegal yang kurasakan. Kepenatan dengan aktivitas menjadi seorang guru, tidak sesuai dengan imbalan yang kuterima. Semua temanku juga merasakan letih yang mirip denganku. Padatnya tuntutan terhadap guru membuat guru laksana robot tangguh tanpa boleh mengeluhkan rasa penat sedikit pun. Mulai dari tugas administrasi, penuhnya jam mengajar, sampai pada pelayanan untuk peserta didik harus selalu diutamakan. Dan biasanya pada jam-jam terakhir sebelum pulang, mereka sangat terlihat kuyu, lelah dan tak bertenaga alias letoy.
Lalu mengapa mereka bergegas pulang bila jam mengajar telah selesai? Bukankah di rumah mereka juga ada tugas-tugas lain yang tak kalah menguras tenaga? Mengapa mereka begitu antusias ketika bel pulang berbunyi, seolah-olah itu adalah musik paling indah sedunia yang baru pertama kali mereka dengar? Mengapa bel pulang itu laksana obat penambah energi bagi mereka? Untuk apa mereka ingin cepat pulang? Jawabnya hanya satu. Tentu saja karena ada yang menunggu di rumah.
Lalu aku? Siapa yang menungguku di rumah ini? Rumah yang cukup luas, yang kutinggali seorang diri. Tidak ada orang lain di rumah ini kecuali diriku. Ini rumah baruku. Di rumah lama kami, ibu telah meninggal sejak aku berumur 12 tahun. Ayah menyusul ibu 2 tahun yang lalu. Sementara kakakku satu-satunya telah menikah dan tinggal dengan keluarga kecilnya di kota lain.
Mataku memanas. Rasa sedih kembali menyelinap di relung hati. Kulayangkan pandang ke luar kamar melalui jendela yang gordennya belum tertutup. Tidak terlalu gelap di luar sana. Halaman belakang rumahku cukuo luas, berbatasan langsung dengan bibir danau. Masih jelas kilauan air danau memantulkan cahaya rembulan yang berbentuk separuh, dihiasi lampu-lampu bangunan di seberangnya. Seperti kunang-kunang yang ramai menerangi gelapnya hutan di malam hari. Sedikit menghibur.
Usiaku sebentar lagi akan mencapai 35 tahun. Sebagai seorang perempuan, aku merasa hampir sempurna. Bagaimana tidak, walaupun tubuhku mungil, menurut banyak orang aku cukup cantik dan pandai bergaya. Aku adalah seorang pendidik di Yayasan Mulia Bhakti, yang memiliki banyak sekolah unggul di propinsi ini. Penghasilanku mencapai 3 sampai 5 kali lipat penghasilan guru PNS biasa. Aku juga telah dibiayai oleh yayasan ini untuk melanjutkan pendidikan sampai selesai jenjang S2. Di satu sisi, aku adalah perempuan yang sangat beruntung.
Lalu, mengapa hampir sempurna? Tentu saja karena belum lengkap. Ya, aku merasa keadaanku saat ini belum lagi sempurna. Sebagai seorang perempuan aku belum memiliki pendamping hidup di usiaku yang kepala tiga ini.
Bagiku, perempuan sempurna itu adalah perempuan yang mempunyai imam dalam keluarganya. Syukur-syukur diamanahi seorang atau beberapa orang anak. Itu adalah karunia terbesar dalam kehidupan seorang perempuan.
Rumah ini adalah rumah yang bisa kubeli dari penghasilanku sebagai seorang pendidik. Tapi dengan menjadi seorang pendidik di yayasan ternama membuat waktuku habis terkuras untuk memajukan yayasan tersebut. Pergi pagi, pulang menjelang senja hari. Begitu rutinitas yang kujalani setiap hari. Akibatnya, aku tidak memiliki waktu cukup untuk memikirkan masa depanku. Aku belum sempurna menjadi seorang perempuan.
Perlahan aku bangkit dari sofa dan berjalan ke arah dapur. Aku merasa perutku mulai bernyanyi karena lapar. Mungkin dengan menyantap seporsi kecil soto ayam hangat akan dapat mengatasinya. Kubuka kulkas dan segera kuhangatkan makanan kegemaranku itu. Lima menit kemudian, semangkuk soto ayam hangat buatan kak Linda, asisten rumah ini, terhidang dihadapanku. Ternyata tak butuh waktu lama memindahkannya ke dalam perutku. Ususku yang kosong terasa sangat nyaman sekarang.
(Bersambung)
Komentar
Posting Komentar