2. Apa Aku Bermimpi? (1)
2. Apa Aku Bermimpi?
“Winaaa…!! Kalau kamu belum bangun juga Aku guyur pakai air segayung ya…!” terdengar teriakan melengking di telingaku. “Siapa yang berani mengganggu tidurku?” pikirku. Mataku masih tertutup rapat. Kusingkirkan selimut dari tubuh ini sambil duduk di pinggir tempat tidurku.
“Iyaaa…. Ini juga udah bangun!” teriakku lebih keras membalas teriakan tadi. “Heh, sebentar. membalas teriakan? Bukankah aku hanya sendirian di rumahku? Lalu siapa orang yang berteriak tadi? Apakah kak Linda yang biasa membantu membereskan rumah dan memasak untukku setiap hari sudah datang? Lalu bagaimana mungkin dia berani berteriak sekencang itu padaku?” berbagai pertanyaan mendesak kesadaranku untuk segera pulih 100 persen.
Kupaksa membuka mata yang tertutup sedari tadi. “Astaga…! Aku berada di kamarku! Kok bisa? Maksudku, aku sekarang berada di kamarku dulu…!” kukucek kedua mataku dengan punggung tanganku. Aku pasti bermimpi. “OMG… Apa-apaan sih?” kutepuk pipiku keras. Aduh…sangat sakit.
“Wina…! Ayolah bangun, nanti kakak…” si empunya suara telah sampai di kamarku. Kamar lamaku, di dalam rumah lama kami. “… Astaga, kamu kenapa Win? Kok pucat sekali?” ternyata yang bicara itu kakakku Windy.
Aku melihat kak Windy memakai rok abu-abunya, rok SMA dengan atasan kemeja pendek berwarna putih bersih. Rambutnya yang ikal tergerai lembut di bahunya. Aku sungguh tak percaya. “Ini…kak Windy?” tanyaku memastikan. “Ya iyalah Win, ini kakak, bukannya hantu.” Kak Windy memegang dahiku. “Kamu serius nggak apa-apa kan Win?” tanyanya sekali lagi.
Aku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya sekaligus menyadarkan diriku. Aku berjalan ke arah lemari coklat tua tempat biasanya bajuku disimpan. Aku memandang kaca di hadapanku.
Aku benar-benar rasa ingin mati ketika melihat pantulan wajahku di cermin lemari kokoh itu. Rambutku sangat pendek, persis seperti waktu masih SMP dulu. Tak henti kumainkan poni di dahiku. “Ya, inilah aku si kepala sekolah baru yang sekarang berubah kembali jadi anak SMP!” batinku seolah tak percaya.
Tiba-tiba kak Windy melemparkan handuk dan seragam sekolah ke arahku. “Ayo Wina, jangan sampai kakak terlambat ya, gara-gara nungguin kamu!” Reflek aku menangkap benda-benda terbang itu. Keluar dari kamar, segera menuju kamar mandi. Namun kulihat papa sedang duduk membaca koran pagi dengan socangkir kopi hitamnya. “Papa...Papa...!” teriakku sambil berlari memeluk papaku. Air mataku tak terbendung lagi.
Papa terkejut lalu membalas pelukanku. “Wina kenapa?” Air mataku tumpah ruah, kuciumi papaku. “Biarlah ini mimpi Tuhan.” batinku. Tapi aku benar-benar merasakan pelukan hangat papaku, kulitnya, jenggotnya, kumisnya… Di zamanku, aku tak mungkin bisa lagi memeluk papa dengan erat seperti ini. Tak bisa kurasakan jenggot dan kumisnya lagi, karena beliau sudah pergi untuk selamanya. “Wina kangen Papa.” ujarku berbisik sambil terus memeluknya.
“Plak!” Akhirnya setumpuk buku menghentikan gerakan narsisku. “Aduh, sakit kak!” teriakku pada kak Windy yang rupanya sudah sangat kesal dengan ulahku pagi ini.
“Pa, aku naik bemo sendiri aja ya. Anak satu ini kalau ditunggu bisa setahun baru dia selesai keanehannya.” kata kakakku merajuk. “Apa kak, bemo? Memang masih ada bemo?” aku takjub mendengarkan kak Windy akan naik bemo ke sekolah. Bukankah kendaraan beroda tiga itu sudah lama sekali tidak beroperasi di negara ini? Bukankah... “Astaga, iya kak, iya!” aku segera waspada ketika pukulan kedua sudah diarahkan kak Windy ke kepalaku. Aku langsung mengelak, berdiri di belakang kursi papa. “Tak mungkin keluargaku tahu bahwa aku bukanlah aku yang kemarin.” ujarku dalam hati.
Berlari aku ke kamar mandi, tak ingin ditinggal oleh kakakku ke sekolah. Papa hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkahku. Di kamar mandi aku sempat bingung sendiri. Terselip rasa yang campur aduk di dadaku. Sedikit senang, takut dan bingung. Selebihnya adalah semangat baru, menghadapi petualangan yang pasti seru. Naik bemo misalnya.
***
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar