PERJALANAN HATI

MOBIL TRAVEL RASA WARUNG KOPI

Selaku seorang pendidik yang mengemban tugas sedikit jauh dari tempat kediaman, saya sering kali berangkat dari rumah menunju tempat tugas setelah selesai melaksanakan salat Subuh. Namun kali ini, beberapa kesibukan sebagai ibu rumah tangga membuat saya terlambat keluar rumah.
Hari ini, pukul 6.15 WIB saya baru sampai di Simpang Sungai Tanang Kecamatan Banuhampu, tempat saya berdiri menunggu angkutan ke Lubuk Basung. Jalanan masih sangat sepi. Rintik gerimis dan kabut yang agak tebal seperti memperlambat aktivitas penduduk di pagi hari.
Karena takut terlambat akhirnya saya memberanikan diri menelpon salah seorang driver mobil travel (istilah yang biasa dipakai untuk angkutan antar kota) ke Lubuk Basung. Saya beruntung, masih tersedia tempat duduk untuk saya.
Singkat cerita, saya telah berada di mobil travel tersebut. Semua penumpang adalah perempuan. Di depan duduk guru di salah satu SMA di sekitar Maninjau. Dua orang di samping saya adalah guru sekolah agama, dan dua orang di belakang bekerja sebagai pegawai bank.
Cerita di awali dengan seloroh ibu yang duduk di samping saya tentang perjuangan beliau untuk mendapatkan surat keterangan kesehatan, guna memenuhi persyaratan ikut tes PNS. Beberapa hari yang lalu telah mengambil nomor antrian namun dokternya terlambat datang lantaran ada kasus darurat dari dua orang penderita sakit parah. 
Biasanya dokter tersebut melayani sampai 100 orang pasien. Tapi hari itu hanya sampai nomor antrian 40. Sisanya disuruh datang kembali hari Selasa, berarti besok. Padahal besok ibu tersebut mengajar 6 jam pelajaran. Guru yang duduk paling ujung menyarankan agar beliau cepat datang besok supaya dapat nomor antrian lebih kecil. Beberapa perdebatan terjadi, tentang sulitnya untuk menjadi PNS saat ini. Bahkan setelah menjadi PNS pun kesulitan tetap ada.
Cerita berpindah pada perjuangan meninggalkan si buah hati ketika akan bekerja. Ada yang mengaku “tega” membersihkan bayinya yang telah selesai buang air dengan air dingin agar tidak merepotkan. Yang lain merasa takjub dan merasa tidak mampu melakukan karena percuma saja apabila sepeninggal mereka bekerja, orang-orang dewasa yang berada di sekeliling si bayi kembali menggunakan air hangat bahkan untuk cebok dan mandi si bayi.
Saya merasa sangat beruntung menaiki mobil travel ini karena menambah wawasan saya tentang berbagai opini dari sesama perempuan terutama yang berprofesi sama dengan saya yaitu seorang pendidik. Dalam beberapa percakapan kami berebut bicara. Kemudian tertawa bersama karena menyadari seolah-olah kami tahu segalanya. Suasana semakin hangat manakala sang driver ikut serta meningkahi.
Selanjutnya, pembicaraan beralih pada penyesalan dari salah seorang guru yang tidak sempat untuk mengikuti pelatihan bersama bapak Adhan Chaniago yang diadakan Pondok Literasi Agam di SDN 11 Gadut kemarin. Guru yang lain menimpali, “Alah, paling yang berhasil menyelesaikan sebuah buku tidak sampai 30%”. 
Saya yang kebetulan mengikuti pelatihan tersebut menjelaskan keuntungan mengikuti kegiatan kemarin. Saya ceritakan bahwa ketika sebelumnya mengikuti pelatihan yang sama, para peserta bisa dan berhasil launching buku bersama Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan di hari guru. Pelatihan kali ini, ditargetkan peserta dapat menelurkan sebuah buku antologi dan sebuah buku pribadi. 
Banyak yang berkilah menulis itu sulit dengan tuntutan aktivitas yang padat dan jarang membaca buku. Belum lagi komentar orang lain yang lebih banyak tidak suka daripada mendukung terhadap apa yang kita inginkan. Membuat buku itu sulit, biaya penerbitan juga mahal. Begitu para ibu tersebut mengeluarkan pendapat silih berganti. “Ups… Persis itulah curhatan para peserta pelatihan kemarin.” Pikir saya. Saya coba kembali meluruskan bahwa sebenarnya ada dua sisi otak dalam diri kita. Yang pertama adalah otak kritis yang selalu memikirkan lebih banyak akibat sehingga kita menjadi seorang peragu. Sisi lainnya adalah otak pede, yang membuat kita enjoy melakukan suatu kegiatan, bahkan bila ditentang sekalipun. Saya mengetahui ini dari coach kami, Adhan Chaniago.
Diskusi kami berlangsung hangat dan mengalir begitu saja. Saya merasa seperti berada di warung kopi, dimana pengunjung dapat bebas bicara apa saja dan bergembira. Ada adu argumen, sharing info terbaru dan diskusi kecil yang pembahasannya kemana-mana. Bahkan perjalanan serasa sangat singkat dengan adanya tambahan pembahasan tentang bencana tiupan angin danau yang membuat rugi petani keramba, kemudian tentang virus Corona, Pasar Tomohon yang ekstrim dan terakhir tentang kasus sate KMS.
Mendekati Pasa Rabaa, salah seorang ibu guru kemudian bercerita tentang buku beliau yang tak kunjung selesai. Rupanya beliau termotivasi untuk menyelesaikannya. Saya menyambut dengan antusias, memompa semangat beliau dan akhirnya kami bertukar nomor Whatsapp. 
Pagi yang diawali dengan hujan gerimis, menjadi cerah ketika saya menjejakkan kaki di halaman sekolah. Benar-benar pengalaman berharga, dapat menjadi penumpang mobil travel rasa warung kopi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3. Hujan