Selamat Tinggal Batam

1. Selamat Tinggal Batam

FIVY

Perlahan, antrian manusia menuju perut pesawat semakin pendek. Akhirnya tibalah giliranku dan mama. Pramugari cantik memeriksa nomor kursi kami dan menunjukkan posisi dimana kami bisa duduk. Sungguh baik dan ramah. Tapi tidak mengobati kesedihanku yang sangat dalam karena harus meninggalkan kota ini. Akhirnya aku mendapatkan kursiku persis dekat jendela sebelah kiri bagian pesawat ini.
Kulayangkan pandangan keluar jendela. Beberapa burung besi besar tampak gagah berjejer rapi. Aku sekarang ada di sini, di Bandara Hang Nadim yang tak pernah sepi dari aktivitas penerbangan. Landas pacunya sepanjang 4.025 meter menjadikan bandara ini sebagai pemilik landas pacu terpanjang di Indonesia dan kedua di Asia Tenggara. Bahkan saat ini, Bandara Hang Nadim dapat menampung sekitar 18 pesawat besar seperti Boeing 747, Boeing 767 dan Boeing 777. Begitu informasi yang kuterima dari guru di kelasku.
Selang beberapa waktu kemudian, terdengar arahan dari pengeras suara agar kami memperhatikan keterangan yang akan diperagakan oleh pramugari. Seperti biasa ada dua orang yang bertugas. Pertama di bagian depan dan kedua di bagian tengah penumpang. Lalu mereka memperagakan tentang prosedur keamanan yang harus dipatuhi oleh setiap penumpang terutama ketika menghadapi situasi darurat. Alat yang mereka gunakan adalah sabuk pengaman dan pelampung berwarna orange.
Tidak semua penumpang menyimak dengan baik. Masih terdengar tawa dan suara berbincang perlahan dari arah depan dan belakangku. Mungkin mereka adalah orang-orang yang sudah terlalu sering naik pesawat untuk bepergian sehingga telah hafal dengan semua prosedur keamanan. Tapi setidaknya mereka menghargai orang yang sedang membicarakan kebaikan untuk mereka. “Bukan sikap yang baik ketika kita tidak mau peduli dengan orang lain di sekitar kita.” Aku teringat salah satu kalimat yang pernah diucapkan oleh papaku. “Hhhh….” Kuambil napas dalam-dalam karena dadaku terasa sesak tiba-tiba.
“Pasang sabuknya Nak.” Kata mama. “Ya Ma.” Jawabku singkat. Segera kutarik kedua ujung sabuk pengaman dan menyatukan mereka tepat di bagian perutku sampai berbunyi, “Klik!” Aku tersenyum pada mama. “Udah Ma.”
Mama membalas senyumku dan mengusap rambutku. “Jangan lupa berdo’a.” bisiknya lembut. Aku menundukkan kepala dengan khusuk dan mulai berdo’a. “Tuhan, semoga pesawat ini segera rusak. Cuaca jadi gelap dan angin bertiup kencang….Dan turunkan hujan sekarang juga ya Tuhan, sekalian sama badainya….Tolong hentikan kepergianku ini Tuhan…Aku nggak mau pindah dari kota Batam ini. Please Tuhan, tolonglah aku…” pintaku tentu saja hanya dalam hati.
“Berdo’a yang benar!” Mama seolah tahu apa isi do’aku. Aku tersenyum kecut, lalu kembali berdo’a. Tentu saja sekarang do’a yang benar versi mamaku. “Huh…”
Bertepatan dengan selesainya do’aku, pesawat bergerak perlahan. Menderu lembut dan siap untuk tinggal landas. Air mataku mengalir begitu saja melihat Batam kotaku tercinta semakin kecil dan rendah di bawahku. Akhirnya hilang dalam pandangan, berganti dengan lautan membiru berhias awan-awan putih seperti kapas lembut di atasnya.
Terbayang Vanny, Deva dan Monik yang melambaikan tangan mereka ketika melepasku pergi. Monik malah terisak-isak dengan kacamata yang berembun karena air matanya. Aku sayang mereka bertiga, sahabat-sahabatku yang bawel tapi setia. Mereka sudah seperti saudara sendiri karena kami telah bersama sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. “Aku nggak mau pisah sama kamu Vy.” Begitu rengekan Monik padaku malam tadi.
Pesawat masih membelah langit dengan gagahnya. Namun aku begitu lemas menghadapi nasibku berpisah dengan teman-temanku. “Tuhan, aku nggak mau pindah ke Padang…” Ucapku dalam hati, takut ketahuan mama lagi. Tapi Tuhan tidak mengacuhkan do’aku. Langit makin biru, cuaca makin cerah. Sang burung besi nan gagah ini tetap melayang dengan sangat mulus. Kusandarkan tubuhku sembari coba memejamkan mata. “Selamat tinggal teman-teman…” bisikku.

*BERSAMBUNG….*

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3. Hujan