Postingan

2. Apa Aku Bermimpi? (1)

2. Apa Aku Bermimpi? “Winaaa…!! Kalau kamu belum bangun juga Aku guyur pakai air segayung ya…!” terdengar teriakan melengking di telingaku. “Siapa yang berani mengganggu tidurku?” pikirku. Mataku masih tertutup rapat. Kusingkirkan selimut dari tubuh ini sambil duduk di pinggir tempat tidurku. “Iyaaa…. Ini juga udah bangun!” teriakku lebih keras membalas teriakan tadi. “Heh, sebentar. membalas teriakan? Bukankah aku hanya sendirian di rumahku? Lalu siapa orang yang berteriak tadi? Apakah kak Linda yang biasa membantu membereskan rumah dan memasak untukku setiap hari sudah datang? Lalu bagaimana mungkin dia berani berteriak sekencang itu padaku?” berbagai pertanyaan mendesak kesadaranku untuk segera pulih 100 persen.  Kupaksa membuka mata yang tertutup sedari tadi. “Astaga…! Aku berada di kamarku! Kok bisa? Maksudku, aku sekarang berada di kamarku dulu…!” kukucek kedua mataku dengan punggung tanganku. Aku pasti bermimpi. “OMG… Apa-apaan sih?” kutepuk pipiku keras. Aduh…sangat sakit. ...

1. Babak Baru (4)

Beginilah cara aku menghabiskan sisa hariku. Malam terasa sangat lambat merayap menuju fajar. Membosankan. Seringkali aku membawa pekerjaan sekolah pulang ke rumah karena kesulitanku untuk terlelap di malam hari. Dengan bekerja, aku dapat melalui malam yang semakin sunyi. Lepas tengah malam barulah datang lelah, sehingga mempermudah mataku mengajak tubuh beristirahat. Seringkali aku menulis syair, puisi atau sekedar ceritaku sepanjang siang untuk mengatasi kesulitan tidurku. Tentu saja tidak pernah kukirimkan pada penerbit. Itu kan hanya kegiatan perintang waktu saja. Semakin kupikirkan, semakin rumit aku menikmati jalan hidupku. Masih terngiang ucapan teman-teman sesama guru memotivasiku agar segera menikah. "Sudahlah Win, nggak usah terlalu pilih-pilih. " atau, “Kenapa sih kamu nggak mau dengan Rian atau Peter? Nggak ada tuh cowok yang sempurna.  Mereka cukup handsome walaupun gajinya lebih kecil dari kamu... " Mereka mengucapkan dengan manis, tapi membuat hatiku merin...

1. Babak Baru (3)

Sampai di ujung jalan taksi yang kutumpangi berbelok ke kiri dengan tajam. Takut terjatuh, aku berpegangan dengan erat ke ujung kursi depan. Tak lama taksi menepi dan berhenti persis di depan seorang ibu muda yang sedang meringis sambil memegang perutnya. Tanpa pikir panjang aku keluar dari mobil dan menghampiri perempuan itu.  Aku dan supir taksi itu membimbing sang istri yang kesakitan ke atas taksi. Dengan susah payah ia melangkah. Ibu ini memakai gamis berwarna abu-abu, parasnya pucat kesakitan. Aku sangat kasihan melihatnya. Akhirnya ia berhasil kududukkan di jok belakang dan aku segera mendampinginya. Tak lama berselang taksi kembali melaju di aspal jalan. Tentu saja menuju rumah sakit yang terletak di utara kota ini.  Setelah membantu mengurus istri supir taksi online yang akan melahirkan itu, aku kembali berada di bangku belakang taksi online. Tentu saja ini adalah taksi yang lain walaupun dalam layanan yang sama. Terbayang kembali di pelupuk mataku betapa supir itu sa...

1. Babak Baru (2)

Beberapa saat kemudian, taksi online yang kupesan datang. Aku segera menduduki bangku penumpang. Taksi melaju dengan kecepatan sedang membelah senja yang makin temaram. Aku akan segera sampai di rumah. Besok Subuh, babak baru kehidupanku akan segera dimulai. Aku akan berangkat ke sekolah baruku. Bukan sebagai guru lagi, melainkan sebagai seorang kepala sekolah. Kepala SMP Mulya Bhakti II.  Menurut beberapa orang teman, terlalu cepat babak baruku ini kumulai. Baru 5 tahun mengabdi menjadi seorang guru sudah berani menjabat kepala sekolah. Setahun bertugas, aku telah dipercaya menjadi kepala perpustakaan. Kemudian menjadi bendahara sekolah dan terakhir menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Belakangan aku selalu didesak oleh pihak yayasan agar aku mengikuti tes menjadi calon kepala sekolah. Berat rasanya untuk mendaftar tes tersebut. Jika aku berhasil mendapatkan promosi, tentu saja aku harus bersedia digeser dari sekolahku, SMP Mulya Bhakti I. Aku sudah sangat nyaman di sini, bahkan...

1. Babak Baru (1)

1. Babak Baru Perlahan kututup pintu ruang majelis guru. Aku berjalan menuju mesin absensi dan menyetorkan wajahku sebagai laporan bahwa aku telah selesai bertugas hari ini. “Terima kasih” ujar mesin itu. “Sama-sama.” jawabku iseng. Manalah mungkin mesin itu dapat mendengarkan balasan terima kasihku. Tapi biarlah, itu dapat menghibur diri sendiri. Dan itu adalah balasan terakhirku untuknya. Besok dan seterusnya aku takkan menyetorkan wajahku lagi padanya. Dengan langkah santai aku berjalan menuju gerbang sekolah. Untuk apa buru-buru pulang, tak ada yang akan dikejar. Hanya detak sepatuku yang terdengar di lorong sekolah ini. Gedung megah ini sudah sangat sunyi dari beberapa waktu yang lalu. Kulirik penunjuk waktu di pergelangan tanganku. Sudah pukul 17.30 WIB, pantas saja. Hari sudah terlalu sore. Ini adalah hari terakhir aku bertugas di sini, SMP Mulya Bhakti I. Besok pagi aku sudah harus berangkat ke SMP Mulya Bhakti II, karena tugas yang baru telah menunggu di sana. Berat rasanya me...

Usah Kau Amuk

Gambar
Usah Kau Amuk By: Wiwit Jalanan tiba-tiba riuh Deru pick up tak henti berseliweran Membawa berton-ton ikan nan sekarat Rumah tua ini tak henti bergetar Atap rapuh berdentang terhempas Tiang rumah berderik ketakutan menyangga beban Lampu kamar ini tak henti hidup dan mati Tak jelas sampah plastik siapa yang berkejaran di aspal yang menggigil Tangis bocah tak henti berteriak,  menjerit Berpacu dengan deru debu di tepian danau yang menghitam Angin, usah kau marah Angin, usah kau resah Angin, usah kau amuk  Redalah, tenanglah Kami masih belum siap Diterjang kegelisahan badai nan galau Didera raungan gundah nan gulana Hadapi luka hati yang menganga Maninjau, 22022020: 02.20WIB

RISAU

Gambar
RISAU By: Wiwit Apa yang kurisaukan malam ini Hatiku bergelombang seperti danauku Gelap, kelam, ditiup angin kencang bergemuruh Apa yang kurisaukan malam ini Mataku seperti air danau yang membanjir Bergelombang liar, membuih ombak Apa yang kurisaukan malam ini Tangisku seperti kekalutan ikan-ikan dalam keramba yang panik Diterlantarkan sang riak yang mengganas Membolak-balik, hempaskan sisi sisi jaring Apa yang kurisaukan malam ini Pikiranku keruh, rusuh Sekeruh danauku yang terkontaminasi makanannya sendiri Serusuh pribumi yang harap cemas karena lakunya sendiri Apa yang kurisaukan malam ini..... Hatiku Perasaanku Atau danauku