Postingan

3. Hujan

Gambar
3. Hujan “Wina, habiskan susunya Nak!” terdengar suara papa dari ruang makan. “Iya Pa, tunggu sebentar.” jawabku bergegas menghampirinya. “Papa udah sarapan?” tanyaku pada papa yang sedang serius membaca koran pagi di tangannya. “Sudah, tadi papa masak nasi goreng dengan telur mata sapi. Kalau Wina mau, masih ada di lemari.” jawab papa tanpa mengalihkan pandangannya dari koran itu. “Nantilah Pa, makasih. Besok-besok Wina aja yang masak buat Papa. Wina bisa kok.” jawabku santai. Papa menghentikan bacaannya lalu menatapku serius. “Kok bisa?” tanya papa. “Ya bisalah. Setiap hari juga aku kan masak sarapan sendiri Pa. Bisa nasi goreng, mi goreng… Papa jangan salah ya. Gini-gini aku jago bikin masakan ayam balado lho…” dengan bangga kuuraikan semua kebiasaanku di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah tempatku mengajar. Papa menggulung korannya lalu memukul bahuku dengan keras. Aku meringis mengusap bahuku yangbperih. “Jangan mimpi kamu. Menghidupkan kompor saja sampai sekarang ...

3. Apa Aku Bermimpi? (3)

“Maaf Pak, Saya lupa.” jawabku. “Inilah contoh anak yang membeda-bedakan guru! Bahasa Indonesia dikejar, PMP dianaktirikan! Pendidikan Moral Pancasila adalah pelajaran penting anak-anak, jangan seenaknya meremehkan. Bisa apa negara kita ini jika warga negaranya tidak bersikap baik, tidak menjadi warga negara yang patuh dengan peraturan!” serunya pada teman-teman sekelasku. Kira-kira, pada zaman aku menjadi guru, PMP itu semirip dengan PKN.   Mendengarkan suara pak Tasaruddin, anak-anak hanya cekikikan tertawa. Tidak ada yang berani berkomentar atau tertawa terbahak-bahak membully aku. Beda zaman mungkin ya. Dulu serba teratur dan tidak ada yang berani dihadapan gurunya. Beda sekali di zaman aku mengajar anak-anak didikku.  “Bagaimana mungkin kamu dapat menghafalkan alinea per alinea dengan lancar dan benar jika tidak ada salinannya. Makanya bapak suruh mengerjakan PR!” tangan beliau sudah siap akan menarik telingaku. Tapi aku mengelak dan menjawab, “Maaf Pak, tapi saya su...

2. Apa Aku Bermimpi? (2)

Gambar
2. Apa Aku Bermimpi? (2) Aku berdiri di depan gedung lama peninggalan Belanda. Inilah sekolahku dulu, SMP Negeri 1. Di hadapanku terdapat 5 anak tangga menuju kantor majelis guru. Pintu kantor yang tinggi berwarna abu-abu telah terbuka keduanya. Sangat serasi dengan 2 buah jendela berukuran 1 kali 2 meter di sampingnya. Kokoh dan berwibawa. Para peserta didik telah mulai berdatangan. Terus terang aku bingung juga, mau melangkahkan kaki ke arah mana. Tadi aku tidak sempat melihat ke kalender, untuk memastikan tanggal hari ini. Untuk berjaga-jaga, aku mengingat kembali kelas yang pernah kudiami. Aku pernah ada di kelas I.4, II.6 dan III.8.  Entah mengapa hatiku mengatakan mungkin saat ini aku sedang menduduki kelas II.6. Kalau di zamanku asli tentu saja setara dengan kelas VIII. “Berarti lokalku ada di sayap kanan gedung ini.” ujarku pelan setengah berbisik. Aku terus berjalan dan memperhatikan anak-anak di sekelilingku. Terus terang aku lupa nama-nama mereka. Beberapa di...

2. Apa Aku Bermimpi? (1)

2. Apa Aku Bermimpi? “Winaaa…!! Kalau kamu belum bangun juga Aku guyur pakai air segayung ya…!” terdengar teriakan melengking di telingaku. “Siapa yang berani mengganggu tidurku?” pikirku. Mataku masih tertutup rapat. Kusingkirkan selimut dari tubuh ini sambil duduk di pinggir tempat tidurku. “Iyaaa…. Ini juga udah bangun!” teriakku lebih keras membalas teriakan tadi. “Heh, sebentar. membalas teriakan? Bukankah aku hanya sendirian di rumahku? Lalu siapa orang yang berteriak tadi? Apakah kak Linda yang biasa membantu membereskan rumah dan memasak untukku setiap hari sudah datang? Lalu bagaimana mungkin dia berani berteriak sekencang itu padaku?” berbagai pertanyaan mendesak kesadaranku untuk segera pulih 100 persen.  Kupaksa membuka mata yang tertutup sedari tadi. “Astaga…! Aku berada di kamarku! Kok bisa? Maksudku, aku sekarang berada di kamarku dulu…!” kukucek kedua mataku dengan punggung tanganku. Aku pasti bermimpi. “OMG… Apa-apaan sih?” kutepuk pipiku keras. Aduh…sangat sakit. ...

1. Babak Baru (4)

Beginilah cara aku menghabiskan sisa hariku. Malam terasa sangat lambat merayap menuju fajar. Membosankan. Seringkali aku membawa pekerjaan sekolah pulang ke rumah karena kesulitanku untuk terlelap di malam hari. Dengan bekerja, aku dapat melalui malam yang semakin sunyi. Lepas tengah malam barulah datang lelah, sehingga mempermudah mataku mengajak tubuh beristirahat. Seringkali aku menulis syair, puisi atau sekedar ceritaku sepanjang siang untuk mengatasi kesulitan tidurku. Tentu saja tidak pernah kukirimkan pada penerbit. Itu kan hanya kegiatan perintang waktu saja. Semakin kupikirkan, semakin rumit aku menikmati jalan hidupku. Masih terngiang ucapan teman-teman sesama guru memotivasiku agar segera menikah. "Sudahlah Win, nggak usah terlalu pilih-pilih. " atau, “Kenapa sih kamu nggak mau dengan Rian atau Peter? Nggak ada tuh cowok yang sempurna.  Mereka cukup handsome walaupun gajinya lebih kecil dari kamu... " Mereka mengucapkan dengan manis, tapi membuat hatiku merin...

1. Babak Baru (3)

Sampai di ujung jalan taksi yang kutumpangi berbelok ke kiri dengan tajam. Takut terjatuh, aku berpegangan dengan erat ke ujung kursi depan. Tak lama taksi menepi dan berhenti persis di depan seorang ibu muda yang sedang meringis sambil memegang perutnya. Tanpa pikir panjang aku keluar dari mobil dan menghampiri perempuan itu.  Aku dan supir taksi itu membimbing sang istri yang kesakitan ke atas taksi. Dengan susah payah ia melangkah. Ibu ini memakai gamis berwarna abu-abu, parasnya pucat kesakitan. Aku sangat kasihan melihatnya. Akhirnya ia berhasil kududukkan di jok belakang dan aku segera mendampinginya. Tak lama berselang taksi kembali melaju di aspal jalan. Tentu saja menuju rumah sakit yang terletak di utara kota ini.  Setelah membantu mengurus istri supir taksi online yang akan melahirkan itu, aku kembali berada di bangku belakang taksi online. Tentu saja ini adalah taksi yang lain walaupun dalam layanan yang sama. Terbayang kembali di pelupuk mataku betapa supir itu sa...

1. Babak Baru (2)

Beberapa saat kemudian, taksi online yang kupesan datang. Aku segera menduduki bangku penumpang. Taksi melaju dengan kecepatan sedang membelah senja yang makin temaram. Aku akan segera sampai di rumah. Besok Subuh, babak baru kehidupanku akan segera dimulai. Aku akan berangkat ke sekolah baruku. Bukan sebagai guru lagi, melainkan sebagai seorang kepala sekolah. Kepala SMP Mulya Bhakti II.  Menurut beberapa orang teman, terlalu cepat babak baruku ini kumulai. Baru 5 tahun mengabdi menjadi seorang guru sudah berani menjabat kepala sekolah. Setahun bertugas, aku telah dipercaya menjadi kepala perpustakaan. Kemudian menjadi bendahara sekolah dan terakhir menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Belakangan aku selalu didesak oleh pihak yayasan agar aku mengikuti tes menjadi calon kepala sekolah. Berat rasanya untuk mendaftar tes tersebut. Jika aku berhasil mendapatkan promosi, tentu saja aku harus bersedia digeser dari sekolahku, SMP Mulya Bhakti I. Aku sudah sangat nyaman di sini, bahkan...