Postingan

Cinta, Buta

Gambar
Cinta, Buta By: Wiwit Bahasa jemari Ungkap balada rindu Usap relung hati Mainkan irama kalbu Ukiran aksara Hiasi asmara usang Degupkan cinta Panggilan nestapa pulang Debu menderu Pelangi basi Abai terbusai Pilu menyembilu Cinta buta Kasih tertatih Pendar memudar Bara pun tuna wicara

HEART MASTERY FOR TEACHING

Gambar
Heart Mastery for Teacher Bersama ust. Zaenal Muttaqin di SMPN 2 Tanjung Raya Kamis, 6 Maret 2020 Dunia guru adalah dunia yang istimewa, tidak semua orang mampu dan diberi kesempatan untuk berada di dalamnya. Ada orang-orang yang hebat dan telah mengantongi ijazah keguruan namun mereka masih antri di luar sana karena tidak mendapatkan akses masuk berkecimpung dalam proses kependidikan anak bangsa. Guru adalah orang yang beruntung, karena diberikan Allah kesempatan tidak hanya untuk mendapatkan nafkah namun juga dapat membentuk kepribadian banyak manusia sehingga peluang memperoleh pahala sangat besar. Menjadi guru adalah kesempatan bagus, tidak hanya mencari selamat di dunia namun juga di akhirat. Namun mengapa banyak guru menjadi putus asa dalam proses pengabdiannya? Mengapa jika dulu banyak orang dari Malaysia dan Singapura sangat bangga mendapat kesempatan belajar di Indonesia namun sekarang ini yang terjadi adalah kebalikannya? Dan mengapa kata-kata guru sekarang ini ti...

3. Hujan

Gambar
3. Hujan “Wina, habiskan susunya Nak!” terdengar suara papa dari ruang makan. “Iya Pa, tunggu sebentar.” jawabku bergegas menghampirinya. “Papa udah sarapan?” tanyaku pada papa yang sedang serius membaca koran pagi di tangannya. “Sudah, tadi papa masak nasi goreng dengan telur mata sapi. Kalau Wina mau, masih ada di lemari.” jawab papa tanpa mengalihkan pandangannya dari koran itu. “Nantilah Pa, makasih. Besok-besok Wina aja yang masak buat Papa. Wina bisa kok.” jawabku santai. Papa menghentikan bacaannya lalu menatapku serius. “Kok bisa?” tanya papa. “Ya bisalah. Setiap hari juga aku kan masak sarapan sendiri Pa. Bisa nasi goreng, mi goreng… Papa jangan salah ya. Gini-gini aku jago bikin masakan ayam balado lho…” dengan bangga kuuraikan semua kebiasaanku di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah tempatku mengajar. Papa menggulung korannya lalu memukul bahuku dengan keras. Aku meringis mengusap bahuku yangbperih. “Jangan mimpi kamu. Menghidupkan kompor saja sampai sekarang ...

3. Apa Aku Bermimpi? (3)

“Maaf Pak, Saya lupa.” jawabku. “Inilah contoh anak yang membeda-bedakan guru! Bahasa Indonesia dikejar, PMP dianaktirikan! Pendidikan Moral Pancasila adalah pelajaran penting anak-anak, jangan seenaknya meremehkan. Bisa apa negara kita ini jika warga negaranya tidak bersikap baik, tidak menjadi warga negara yang patuh dengan peraturan!” serunya pada teman-teman sekelasku. Kira-kira, pada zaman aku menjadi guru, PMP itu semirip dengan PKN.   Mendengarkan suara pak Tasaruddin, anak-anak hanya cekikikan tertawa. Tidak ada yang berani berkomentar atau tertawa terbahak-bahak membully aku. Beda zaman mungkin ya. Dulu serba teratur dan tidak ada yang berani dihadapan gurunya. Beda sekali di zaman aku mengajar anak-anak didikku.  “Bagaimana mungkin kamu dapat menghafalkan alinea per alinea dengan lancar dan benar jika tidak ada salinannya. Makanya bapak suruh mengerjakan PR!” tangan beliau sudah siap akan menarik telingaku. Tapi aku mengelak dan menjawab, “Maaf Pak, tapi saya su...

2. Apa Aku Bermimpi? (2)

Gambar
2. Apa Aku Bermimpi? (2) Aku berdiri di depan gedung lama peninggalan Belanda. Inilah sekolahku dulu, SMP Negeri 1. Di hadapanku terdapat 5 anak tangga menuju kantor majelis guru. Pintu kantor yang tinggi berwarna abu-abu telah terbuka keduanya. Sangat serasi dengan 2 buah jendela berukuran 1 kali 2 meter di sampingnya. Kokoh dan berwibawa. Para peserta didik telah mulai berdatangan. Terus terang aku bingung juga, mau melangkahkan kaki ke arah mana. Tadi aku tidak sempat melihat ke kalender, untuk memastikan tanggal hari ini. Untuk berjaga-jaga, aku mengingat kembali kelas yang pernah kudiami. Aku pernah ada di kelas I.4, II.6 dan III.8.  Entah mengapa hatiku mengatakan mungkin saat ini aku sedang menduduki kelas II.6. Kalau di zamanku asli tentu saja setara dengan kelas VIII. “Berarti lokalku ada di sayap kanan gedung ini.” ujarku pelan setengah berbisik. Aku terus berjalan dan memperhatikan anak-anak di sekelilingku. Terus terang aku lupa nama-nama mereka. Beberapa di...

2. Apa Aku Bermimpi? (1)

2. Apa Aku Bermimpi? “Winaaa…!! Kalau kamu belum bangun juga Aku guyur pakai air segayung ya…!” terdengar teriakan melengking di telingaku. “Siapa yang berani mengganggu tidurku?” pikirku. Mataku masih tertutup rapat. Kusingkirkan selimut dari tubuh ini sambil duduk di pinggir tempat tidurku. “Iyaaa…. Ini juga udah bangun!” teriakku lebih keras membalas teriakan tadi. “Heh, sebentar. membalas teriakan? Bukankah aku hanya sendirian di rumahku? Lalu siapa orang yang berteriak tadi? Apakah kak Linda yang biasa membantu membereskan rumah dan memasak untukku setiap hari sudah datang? Lalu bagaimana mungkin dia berani berteriak sekencang itu padaku?” berbagai pertanyaan mendesak kesadaranku untuk segera pulih 100 persen.  Kupaksa membuka mata yang tertutup sedari tadi. “Astaga…! Aku berada di kamarku! Kok bisa? Maksudku, aku sekarang berada di kamarku dulu…!” kukucek kedua mataku dengan punggung tanganku. Aku pasti bermimpi. “OMG… Apa-apaan sih?” kutepuk pipiku keras. Aduh…sangat sakit. ...

1. Babak Baru (4)

Beginilah cara aku menghabiskan sisa hariku. Malam terasa sangat lambat merayap menuju fajar. Membosankan. Seringkali aku membawa pekerjaan sekolah pulang ke rumah karena kesulitanku untuk terlelap di malam hari. Dengan bekerja, aku dapat melalui malam yang semakin sunyi. Lepas tengah malam barulah datang lelah, sehingga mempermudah mataku mengajak tubuh beristirahat. Seringkali aku menulis syair, puisi atau sekedar ceritaku sepanjang siang untuk mengatasi kesulitan tidurku. Tentu saja tidak pernah kukirimkan pada penerbit. Itu kan hanya kegiatan perintang waktu saja. Semakin kupikirkan, semakin rumit aku menikmati jalan hidupku. Masih terngiang ucapan teman-teman sesama guru memotivasiku agar segera menikah. "Sudahlah Win, nggak usah terlalu pilih-pilih. " atau, “Kenapa sih kamu nggak mau dengan Rian atau Peter? Nggak ada tuh cowok yang sempurna.  Mereka cukup handsome walaupun gajinya lebih kecil dari kamu... " Mereka mengucapkan dengan manis, tapi membuat hatiku merin...